Cuti Besar

Cuti Besar dimaksudkan untuk memberikan istirahat dalam rangka pembinaan kesegaran jasmani dan rohani Pegawai termasuk dalam menjalankan ibadah agama serta untuk kepentingan pribadi yang tidak dapat dipenuhi oleh Cuti Tahunan dan atau Cuti Karena Alasan Penting.

Yang berhak untuk melaksanakan Cuti Besar adalah pegawai berstatus Pegawai Tetap.

Pelaksanaan Cuti Besar dapat di ambil apabila :
a. Pegawai telah memiliki masa kerja minimal 6 (enam) tahun terus menerus terhitung sejak yang bersangkutan diangkat menjadi Calon Pegawai Tetap.
b. Untuk pelaksanaan Cuti Besar berikutnya dapat diberikan setiap 3 (tiga) tahun setelah bekerja terus menerus.

Pelaksanaan Cuti Besar dapat di ambil apabila :
a. Pegawai telah memiliki masa kerja minimal 6 (enam) tahun terus menerus terhitung sejak yang bersangkutan diangkat menjadi Calon Pegawai Tetap.
b. Untuk pelaksanaan Cuti Besar berikutnya dapat diberikan setiap 3 (tiga) tahun setelah bekerja terus menerus.

Jangka waktu untuk Cuti Besar maksimal 45 (empat puluh lima) hari kalender.

Pegawai yang telah melaksanakan Cuti Besar kurang dari 45 (empat puluh lima) hari kalender, dianggap telah selesai melaksanakan Cuti Besar dan tidak ada perhitungan sisa hari Cuti Besar.

Pegawai yang melaksanakan Cuti Besar maka Cuti Tahunan dalam tahun tersebut gugur.

Bagi Pegawai yang melaksanakan Cuti Besar sedangkan sebelumnya telah melaksanakan Cuti Tahunan pada tahun berjalan maka Cuti Besar tersebut dikurangi Cuti Tahunan yang telah dijalankan.

Khusus bagi Pegawai yang mempunyai hari libur (tidak masuk kerja dalam 1 tahun sama atau lebih dari 30 (tiga puluh) hari kalender, tidak diberikan hak Cuti Besar.

• Pejabat yang akan memberikan ijin kepada Pegawai untuk melaksanakan Cuti Besar agar diperhatikan kepentingan Yayasan/Lembaga sehingga kelancaran tugas tidak terabaikan.
• Dalam rangka memenuhi kebutuhan operasional dan kepentingan Yayasan/Lembaga, Pegawai yang sedang melaksanakan Cuti Besar dapat dipanggil oleh Atasan Langsung untuk menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang ditentukan secara tertulis. Dan setelah pelaksanaan pekerjaan, sisa hak Cuti Besar wajib dilanjutkan sesuai sejumlah sisa hari Cuti Besar yang belum dijalankan.

Untuk kepentingan operasional, pejabat yang berwenang dapat menangguhkan Pelaksanaan Cuti Besar apabila ?
a. Kondisi darurat pada Unit Kerja dimana Pegawai berada;
b. Kompetensi yang diperlukan pada waktu itu hanya dimiliki Pegawai yang sedang melaksanakan Cuti Besar.

Dalam hal Cuti Besar yang tidak disetujui atau ditangguhkan, harus dilakukan penjadwalan ulang.

Pejabat yang berwenang tidak dapat menangguhkan pelaksanaan Cuti Besar yang digunakan untuk melaksanakan ibadah keagamaan.

Pegawai yang melaksanakan Cuti Besar diberikan penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Hak Cuti Besar bisa gugur/hangus apabila :
a. Cuti Besar tidak dilaksanakan pada tahun berjalan tanpa adanya penangguhan
b. Cuti Besar tidak dilaksanakan sampai dengan akhir tahun berjalan.

Cuti Besar Khusus adalah fasilitas Cuti Besar yang diberikan kepada Pegawai yang akan melaksanakan ibadah keagamaan atas biaya sendiri sebelum yang bersangkutan berhak atas Cuti Besar, dengan ketentuan bahwa Pegawai yang bersangkutan telah memiliki masa kerja minimal 1 (satu) tahun sejak diangkat Calon Pegawai.

Waktu yang digunakan untuk pelaksanaan Cuti Besar Khusus harus dicatat sebagai pelaksanaan hak Pegawai atas Cuti Besar yang akan jatuh tempo dan pelaksanaan Cuti Besar berikutnya tetap dihitung waktu jatuh tempo seharusnya Cuti Besar terebut dilaksanakan.

Jangka waktu menjalani Cuti Besar Khusus adalah maksimal selama 45 (empat puluh lima) hari kalender.

Apabila pelaksanaan Cuti Besar Khusus tidak mencukupi, maka Cuti Besar Khusus dapat digabung dengan Cuti Tahunan.

Bagi Pegawai yang melaksanakan Cuti Besar Khusus diberikan penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Cuti Besar Khusus hanya diberikan 1 (satu) kali selama yang bersangkutan menjadi Pegawai.